Odysseus dan Perjalanan Pulang yang Menguji Batas Manusia

Budi Santoso
Sejarawan & Penulis

Odysseia karya Homeros, bersama Ilias, adalah salah satu dari dua teks paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia. Namun sifatnya sangat berbeda dari Ilias. Di mana Ilias adalah epik tentang kemuliaan dan tragedi perang, Odysseia adalah epik tentang kecerdikan, ketekunan, dan kerinduan akan rumah. Protagonisnya, Odysseus, bukan pahlawan yang paling kuat atau paling berani, ia adalah yang paling cerdas, paling adaptif, dan paling ulet. Dan perjalanannya pulang ke Ithaka selama sepuluh tahun adalah salah satu narasi petualangan terkaya yang pernah dikisahkan manusia.
Siapa Odysseus?
Odysseus adalah raja Ithaka, suami Penelope, ayah Telemakhos. Dalam Ilias, ia dikenal terutama sebagai pembicara ulung dan penasihat bijaksana, bukan pejuang terdepan. Sifat khasnya adalah polymetis (banyak akal), polytropos (banyak jalan), dan polymechanos (banyak siasat). Ia tidak pernah menghadapi masalah dengan satu cara saja, selalu ada rencana cadangan. Sifat-sifat ini menjadikan Odysseus tokoh yang ambigu dalam tradisi Yunani: terlalu licin, terlalu bersedia berbohong demi bertahan hidup. Namun justru itulah yang membuatnya manusiawi: ia bertahan bukan karena tak terkalahkan, melainkan karena tidak pernah menyerah mencari jalan keluar.
Petualangan-Petualangan yang Membentuk Dirinya
Pertemuan dengan Polifemos, Kiklops anak Poseidon, mengungkapkan kecerdikannya: ia membutakan mata Kiklops dengan pancang membara dan meloloskan diri beserta anak buahnya dengan bersembunyi di bawah perut domba. Namun kebanggaannya mengkhianatinya, ketika kapal sudah cukup jauh, Odysseus tidak tahan untuk tidak mengungkapkan namanya kepada Polifemos, mengundang kutukan Poseidon yang memperpanjang perjalanannya bertahun-tahun.
Di pulau penyihir Kirke, yang mengubah anak buahnya menjadi babi, Odysseus berhasil melawan sihirnya dengan bantuan Hermes; tetapi kemudian ia tinggal di sana selama satu tahun penuh, terlena oleh kemewahan. Hanya desakan anak buahnya yang akhirnya mengingatkannya pada tujuan sejati: pulang ke rumah. Episode ini mengingatkan bahwa bahaya terbesar dalam perjalanan Odysseus bukan selalu yang kasar dan keras, melainkan juga yang menyenangkan dan menggoda.
Pertemuan dengan para Sirene adalah yang paling kaya makna: nyanyian mereka menyebabkan siapa pun yang mendengarnya melupakan segalanya dan menuju kematian. Odysseus ingin mendengar nyanyian itu, tetapi tidak mau mati. Solusinya adalah khas Odysseus: ia memerintahkan anak buahnya menutup telinga dengan lilin, sementara ia sendiri meminta diikat erat di tiang kapal. Ia mendapatkan pengalaman tanpa membayar harganya, sebuah pencapaian yang jenius sekaligus sedikit curang.
Godaan Keabadian dan Pilihan untuk Tetap Manusia
Ujian terberat bagi Odysseus mungkin bukan yang paling berbahaya, melainkan yang paling menggoda: tawaran keabadian. Nimfa Kalypsō menahannya di pulaunya, Ogygia, selama tujuh tahun, menawarkan cinta abadi dan kehidupan tanpa kematian jika ia bersedia tetap bersamanya. Namun Odysseus menangis setiap hari di tepi laut, menatap ke arah rumahnya, rindu akan Ithaka, Penelope, dan Telemakhos yang fana. Ketika para dewa memerintahkan Kalypsō melepaskannya, Odysseus memilih kepulangan, memilih kehidupan yang akan berakhir dengan kematian, memilih untuk tetap manusia.
Pilihan ini adalah pernyataan filosofis yang sangat mendalam. Odysseus tidak menginginkan keabadian jika itu berarti ia harus meninggalkan siapa dirinya dan ke mana ia berasal. Identitasnya tidak terpisahkan dari tempat ia lahir, orang-orang yang ia cintai, dan kisah hidupnya yang unik yang bisa dimiliki hanya oleh makhluk fana. Odysseia adalah meditasi tentang apa yang membuat kehidupan bermakna: bukan panjangnya, melainkan keterkaitannya dengan rumah, kenangan, dan hubungan.
Kembali ke Ithaka: Keadilan yang Tertunda
Ketika Odysseus akhirnya tiba di Ithaka, ia mendapati rumahnya diambil alih oleh ratusan pelamar yang ingin menikahi Penelope. Penelope sendiri bertahan dengan kecerdasannya: ia berjanji memilih suami baru setelah selesai menenun kain kafan untuk ayah mertuanya, tetapi setiap malam membongkar kembali tenunannya. Odysseus datang dalam penyamaran sebagai pengemis, merencanakan balas dendam dengan seksama. Kontes memanah dengan busur Odysseus menjadi momen puncak, hanya Odysseus yang mampu membentangkan busur legendaris itu, dan dari situlah pembantaian para pelamar dimulai.
Adegan penutup adalah yang paling emosional: Penelope menguji Odysseus dengan trik tentang ranjang pernikahan mereka yang dibuat dari pohon zaitun hidup, sesuatu yang hanya mereka berdua ketahui. Ketika Odysseus melewati ujian itu, Penelope percaya. Dua puluh tahun kerinduan berakhir dalam satu momen pengenalan yang sunyi dan indah; bukan pelukan dramatis, melainkan konfirmasi diam-diam yang lebih berbicara dari segala kata.
Sumber Utama: Homeros, Odysseia, diterjemahkan oleh Emily Wilson (W.W. Norton, 2018); Gregory Nagy, The Best of the Achaeans (Johns Hopkins University Press, 1979); Jasper Griffin, Homer on Life and Death (Oxford University Press, 1980); Jenny Strauss Clay, The Wrath of Athena: Gods and Men in the Odyssey (Princeton University Press, 1983).