Parthenon: Batu yang Berbicara tentang Kekuasaan, Keindahan, dan Dosa

Budi Santoso
Sejarawan & Penulis

Ada sebuah bangunan di dunia yang telah menjadi kuil, gereja, masjid, gudang amunisi, dan reruntuhan dalam satu sejarah panjang, dan tetap menjadi simbol peradaban manusia yang paling dikenal. Parthenon di Akropolis Athena bukan sekadar bangunan indah. Ia adalah pernyataan kekuasaan yang dibalut keindahan, propaganda yang mencapai keagungan artistik, dan monumen yang sejarahnya sendiri adalah cermin dari ambisi dan keserakahan manusia.
Lahir dari Kemenangan dan Kebanggaan Imperialis
Parthenon dibangun antara 447 dan 432 SM di bawah kepemimpinan Perikles, dengan arsitek Iktinos dan Kallikrates, serta seniman Pheidias mengawasi seluruh dekorasi. Pendanaannya berasal dari kas Liga Delos, aliansi pertahanan negara-kota Yunani yang seharusnya digunakan untuk pertahanan bersama melawan Persia. Perikles memindahkan kas ini ke Athena dan menggunakannya untuk memperindah kota. Negara-kota anggota lain memprotes. Perikles memberikan jawaban yang tak terbantah dengan kekuatan: Athena yang melindungi kita semua, maka Athena berhak memperindah dirinya.
Ini adalah korupsi dalam skala kosmik, dan Parthenon adalah hasilnya. Saya tidak bisa memisahkan keindahan arsitekturnya dari cara pembuatannya. Namun saya juga tidak bisa memungkiri bahwa hasil dari korupsi itu adalah sesuatu yang benar-benar melampaui zamannya dan hampir setiap zaman sesudahnya. Ini adalah kontradiksi yang harus kita pegang, bukan diselesaikan.
Keajaiban Optis yang Tersembunyi
Yang membuat Parthenon luar biasa bukan hanya skala atau kemewahan bahannya, semua dari marmer Penteli putih, sekitar 22.000 ton, melainkan kecanggihan matematika yang disembunyikan di balik tampilannya yang tampak "lurus." Tidak ada satu garis lurus pun di Parthenon. Setiap kolom memiliki entasis, pembengkakan halus di bagian tengah yang membuat kolom tampak lurus ke mata manusia. Lantai stylobate melengkung ke atas di tengah. Kolom-kolom sudut sedikit lebih tebal karena latar belakang langit terbuka membuat kolom berukuran sama tampak lebih tipis dari sebenarnya. Semua penyesuaian ini, yang membutuhkan presisi milimeter, dilakukan untuk menghasilkan persepsi sempurna bagi mata manusia yang berdiri di bawahnya.
Ini bukan kesombongan artistik semata. Ini adalah filsafat yang diterjemahkan ke dalam batu: realitas yang terlihat bisa berbeda dari realitas sejati, dan seni yang baik adalah yang memahami dan menjembatani keduanya. Para arsitek Parthenon adalah, dalam pengertian tertentu, murid filsafat yang sama dengan Platon.
Athena Parthenos: Patung yang Hilang
Di dalam ruang utama Parthenon berdiri patung Athena Parthenos karya Pheidias, salah satu karya seni terbesar dunia kuno yang kini hanya dikenal dari deskripsi teks dan replika kecil. Tingginya sekitar 12 meter, terbuat dari gading dan emas (chryselephantine). Athena berdiri tegak, bersenjata lengkap, dengan Nike kecil di tangan kanannya. Permukaan perisainya menampilkan adegan dari mitologi: Kelahiran Athena di sisi dalam, Gigantomachy di sisi luar.
Patung ini hilang. Mungkin dibawa ke Konstantinopel, mungkin dilebur untuk emas dan gadingnya. Pausanias masih melihatnya pada abad ke-2 M. Setelah itu, keheningan. Kehilangan ini mengingatkan kita betapa tipis benang yang menghubungkan kita dengan masa lalu: satu keputusan yang salah, satu bencana yang tidak terduga, dan sebuah mahakarya lenyap untuk selamanya.
Sejarah Panjang Penghancuran
Parthenon selamat hampir utuh selama lebih dari seribu tahun sebagai kuil, kemudian gereja Kristen sejak abad ke-6 M, kemudian masjid Ottoman sejak abad ke-15 M. Kehancuran terbesarnya datang pada 1687, ketika pasukan Venesia mengepung Athena. Tentara Ottoman menyimpan amunisi di dalam Parthenon, menilainya terlindungi karena musuh tidak akan menembak bangunan bersejarah. Francesco Morosini, komandan Venesia, memerintahkan tembakan artileri langsung. Sebuah peluru mengenai gudang amunisi. Ledakan menghancurkan atap, meruntuhkan kolom-kolom tengah, dan membunuh ratusan orang yang bersembunyi di dalam.
Ironi yang pahit: penghancur terbesar Parthenon adalah orang Eropa yang mengklaim mewarisi peradaban Yunani.
Kemudian datang Thomas Bruce, Earl of Elgin, duta besar Inggris untuk Ottoman, yang antara 1801 dan 1812 melepas dan membawa ke London sekitar setengah dari relief yang tersisa: 17 patung dari pedimen, 15 metope, dan 75 meter frieze. Kini tersimpan di British Museum. Posisi Inggris yang menolak mengembalikannya tidak bisa dipertahankan secara moral: karya-karya itu diambil dengan mengeksploitasi kondisi pendudukan, bukan dengan izin sah dari pemilik yang sesungguhnya. Saya percaya bahwa mengembalikan Elgin Marbles adalah tindakan yang benar, bukan karena tekanan hukum, melainkan karena itulah yang dilakukan peradaban yang matang.
Apa yang Parthenon Ajarkan
Parthenon mengajarkan bahwa peradaban terbesar pun membangun monumennya dengan tangan yang tidak sepenuhnya bersih. Bahwa keindahan dan kekuasaan sering berjalan berdampingan. Bahwa warisan manusia itu rapuh, bisa dihancurkan dalam satu malam oleh ledakan yang tidak disengaja, atau dipindahkan satu per satu oleh tangan yang mengklaim melindunginya. Dan bahwa kita, sebagai pewaris sejarah ini, memiliki tanggung jawab yang tidak bisa ditunda.
Sumber Utama: Plutarkhos, Kehidupan Perikles, diterjemahkan oleh Ian Scott-Kilvert (Penguin Classics, 1960); Pausanias, Description of Greece I.24, diterjemahkan oleh W.H.S. Jones (Loeb Classical Library, 1918); Mary Beard, The Parthenon (Harvard University Press, 2010).