Poseidon, Penguasa Lautan yang Ditakuti dan Disembah

Budi Santoso
Sejarawan & Penulis

Bagi orang Yunani kuno, laut bukanlah tempat yang bisa dikuasai. Ia adalah kekuatan primer yang bisa mengangkat kapal ke puncak kemuliaan atau menenggelamkannya dalam hitungan menit. Tidak mengherankan bahwa dewa yang mengatur laut, Poseidon, adalah salah satu yang paling ditakuti dalam panteon Yunani. Bukan ditakuti dengan rasa hormat yang menyenangkan seperti Athena, melainkan ditakuti seperti kita takut pada badai yang tidak bisa dinegosiasi.
Asal-Usul: Kakak yang Kalah
Hesiodos dalam Theogonia menempatkan Poseidon sebagai putra kedua Kronos dan Rhea, kakak Zeus. Seperti saudara-saudaranya, Poseidon ditelan oleh Kronos yang takut akan nubuatan bahwa putranya akan menggulingkannya. Ketika Zeus memaksa Kronos memuntahkan semua anaknya, Poseidon muncul kembali sebagai dewa yang sepenuhnya berkembang. Setelah kemenangan dalam Titanomakhia, ketiga bersaudara membagi alam semesta dengan undian: Zeus mendapat langit, Hades mendapat dunia bawah, dan Poseidon mendapat laut. Bumi dan Olympos menjadi milik bersama.
Namun pembagian ini tidak pernah sepenuhnya memuaskan Poseidon. Ia sering bersikap seperti kakak yang merasa seharusnya mendapat bagian lebih baik, penuh kemarahan dan rasa tidak dihormati. Homer dalam Ilias menggambarkan Poseidon yang marah ketika Zeus mencoba membatasinya, menggunakan argumen senioritas: "Kami bertiga adalah saudara, lahir dari Kronos dan Rhea yang sama, Zeus bukan lebih unggul dari kami."
Tiga Domain: Laut, Gempa, Kuda
Domain Poseidon lebih luas dari sekadar laut. Ia adalah Enosikthon ("Pengguncang Bumi"), dewa gempa bumi yang diyakini dipicu oleh triden yang ia hantamkan ke dasar bumi. Setiap kali bumi berguncang, orang Yunani tahu itu adalah Poseidon yang sedang marah. Ia juga dikaitkan dengan kuda: legenda menyebut ia menciptakan kuda pertama dengan memukul batu dengan tridennya. Nama "Poseidon Hippios" adalah salah satu epitetnya yang paling kuno, dan kuil-kuil Poseidon sering memiliki padang penggembalaan kuda di sekitarnya.
Kombinasi laut, gempa bumi, dan kuda tampak aneh bagi kita modern, tetapi dalam konteks Yunani ini masuk akal: ketiganya adalah kekuatan yang tidak bisa dikendalikan, kekuatan yang bisa membawa kehancuran tiba-tiba tanpa peringatan. Orang Yunani tidak membuat kategori berdasarkan elemen fisik seperti kita; mereka membuat kategori berdasarkan pengalaman kekuatan yang sama, yaitu kekuatan yang menghancurkan segalanya jika tidak dihormati.
Persaingan dengan Athena atas Athena
Salah satu mitos Poseidon yang paling menarik adalah persaingannya dengan Athena untuk mendapatkan patronasi kota yang kemudian bernama Athena. Kedua dewa mengklaim kota itu, dan para dewa Olympos memutuskan bahwa yang memberikan hadiah paling berguna kepada manusia akan memenangkan klaim. Poseidon menghantamkan tridennya ke bebatuan Akropolis: muncul sebuah mata air. Athena menyentuh tanah: muncul pohon zaitun. Para dewa memutuskan pohon zaitun lebih berguna: sumber makanan, minyak lampu, kayu, dan perdagangan.
Poseidon kalah dan marah. Ia membanjiri dataran Attica sebagai hukuman. Versi ini menangkap sesuatu yang sangat akurat tentang karakter Poseidon: ia menerima kekalahan dengan sangat buruk. Yang menarik adalah detail bahwa dalam beberapa versi, warga kota itu sendiri yang memilih, termasuk kaum perempuan yang berhak memilih, dan perempuan memilih Athena sementara laki-laki memilih Poseidon. Karena ada satu perempuan lebih banyak, Athena menang. Poseidon yang marah kemudian mengakibatkan perempuan kehilangan hak pilih di kota itu. Mitos ini tampaknya merupakan upaya orang kuno untuk menjelaskan mengapa perempuan Athena tidak memiliki hak politik, sebuah asal-usul yang lebih jujur dari banyak penjelasan modern tentang ketidaksetaraan kekuasaan.
Poseidon dalam Odysseia: Musuh yang Paling Konsisten
Dalam Odysseia Homer, Poseidon adalah penghalang utama perjalanan pulang Odysseus. Alasannya personal: Odysseus membutakan putra Poseidon, Polifemos sang Kiklops, dengan cara yang sangat licik, tanpa memberikan kesempatan yang adil untuk bertarung secara terbuka. Poseidon tidak bisa membunuh Odysseus karena nasib telah memutuskan Odysseus akan pulang ke Ithaka, tetapi ia bisa membuat perjalanan itu sepanjang dan semenyiksa mungkin. Selama sepuluh tahun, setiap kali Odysseus hampir mencapai keselamatan, Poseidon mengirimkan badai baru.
Yang saya temukan luar biasa dalam penggambaran ini adalah konsistensi karakter Poseidon. Ia tidak plin-plan, tidak bisa disuap, tidak bisa dirayu dengan doa dan persembahan, meskipun Odysseus mencoba. Ia adalah kekuatan alam yang menyimpan dendam dan tidak akan melupakannya. Ini adalah pemahaman yang sangat mendalam tentang alam itu sendiri: laut tidak peduli dengan alasan atau keadilan kita. Ia hanya ada, dengan kekuatannya sendiri, mengikuti logikanya sendiri.
Kuil di Tepi Jurang
Orang Yunani membangun kuil-kuil Poseidon di tempat-tempat yang paling dramatis: di tanjung berbatu yang menjorok ke laut, di tempat angin terkuat berhembus. Kuil Poseidon di Sounion, di ujung selatan Attica, berdiri di atas tebing 60 meter di atas laut Aegea, dan bahkan hingga kini berdiri cukup kokoh untuk dikunjungi dan dikagumi. Sebelum berlayar, pelaut Athena singgah di sana untuk berdoa dan mempersembahkan kurban. Bukan karena mereka percaya bahwa doa akan membuat laut aman, melainkan karena mereka tahu bahwa tanpa kebaikan Poseidon, tidak ada pelayaran yang bisa berhasil.
Itu adalah bentuk religiusitas yang saya hormati secara mendalam: bukan kepercayaan naif bahwa dewa akan melindungi kita dari semua bahaya, melainkan pengakuan rendah hati bahwa ada kekuatan di luar kendali kita. Mengakui keterbatasan itu adalah tindakan kebijaksanaan, bukan kelemahan. Kita yang hidup di era teknologi canggih sering lupa ini, hingga badai yang tidak terduga mengingatkan kita kembali bahwa laut, dalam bentuk apa pun, masih milik Poseidon.
Sumber Utama: Hesiodos, Theogonia, diterjemahkan oleh M.L. West (Oxford World's Classics, 1988); Homeros, Odysseia I, V, XIII, diterjemahkan oleh Emily Wilson (W.W. Norton, 2018); Walter Burkert, Greek Religion (Harvard University Press, 1985).