Dewa Olimpus

Apollo: Dewa Matahari, Musik, dan Kebenaran yang Tak Dapat Dibohongi

Budi Santoso

Budi Santoso

Sejarawan & Penulis

Patung Apollo Belvedere, koleksi Museum Vatikan
Apollo Belvedere (salinan Romawi dari karya Yunani abad ke-4 SM), Museum Vatikan. Via Wikimedia Commons (domain publik).

Jika Zeus mewakili kekuasaan dan Athena mewakili kebijaksanaan strategis, maka Apollo mewakili sesuatu yang lebih sulit didefinisikan: harmoni antara kecantikan dan kebenaran, antara seni dan pengetahuan, antara cahaya yang menerangi dan cahaya yang membakar. Ia adalah dewa yang paling sering disebutkan dalam sumber-sumber Yunani, paling sering digambarkan dalam seni, dan paling berpengaruh dalam membentuk cita-cita estetika dan intelektual peradaban Barat.

Kelahiran di Delos dan Pengambilalihan Delphi

Apollo lahir di pulau Delos bersama saudara kembarnya Artemis, dari Zeus dan Leto. Kelahiran mereka penuh kesulitan: Hera yang cemburu melarang semua daratan memberi Leto tempat bersalin, hanya Delos, pulau terapung, bersedia menerimanya. Setelah lahir, Apollo pergi ke Delphi dan membunuh Python, ular raksasa anak Gaia yang menguasai wilayah itu. Dengan mengambil alih oracle Delphi, Apollo mengklaim tempat yang akan menjadi pusat keagamaan terpenting di seluruh dunia Yunani selama hampir seribu tahun.

Oracle Delphi: "Kenali Dirimu Sendiri"

Di pintu masuk Kuil Apollo di Delphi terukir semboyan yang menjadi inti pandangan dunia Yunani: Gnōthi seauton ("Kenali dirimu sendiri") dan Mēden agan ("Jangan berlebihan"). Nubuat-nubuat Delphi terkenal karena ambiguitasnya yang disengaja. Ketika raja Lydia Kroisos bertanya apakah ia harus menyerang Persia, Oracle menjawab bahwa sebuah kerajaan besar akan hancur. Yang hancur adalah kerajaannya sendiri. Ambiguitas oracle adalah pengakuan bahwa kebenaran sering bergantung pada siapa yang menafsirkan.

Apollo, Seni, dan Nietzsche

Apollo adalah Mousagetēs, pemimpin sembilan Muse. Kontes musiknya dengan satir Marsyas berakhir dengan Apollo menguliti Marsyas hidup-hidup setelah menang, menunjukkan sisi gelap Apollo: seni baginya adalah standar yang tidak boleh direndahkan. Friedrich Nietzsche dalam The Birth of Tragedy (1872) membangun teorinya di atas pertentangan antara prinsip Apollonian (keteraturan, rasionalitas, keindahan bentuk) dan Dionysian (ekses, irasionalitas, peleburan diri). Framework ini, meskipun banyak dikritik ahli klasik, tetap menjadi alat analitis paling berpengaruh dalam estetika Barat.

Penyembuhan, Penyakit, dan Warisan

Apollo juga adalah dewa penyembuhan, anaknya Asklepios menjadi dewa kedokteran. Namun ia juga mengirimkan penyakit: dalam pembukaan Ilias, ia mengirimkan wabah kepada pasukan Yunani ketika Agamemnon menghina imamnya. Kemampuan yang sama, memanah dari jauh, bisa menyembuhkan atau membunuh tergantung pada apakah ia dipuja atau dinodai. Ketika Roma mengadopsi jajaran dewa Yunani, Apollo adalah satu-satunya yang dipertahankan dengan nama aslinya, pengakuan bahwa ia sudah terlalu integral untuk diubah. Dari seniman Renaisans hingga filsuf Pencerahan, warisan Apollo hidup dalam cita-cita budaya Barat hingga hari ini.

Sumber Utama: Homeric Hymn to Apollo, diterjemahkan oleh Jules Cashford (Penguin Classics, 2003); Pausanias, Description of Greece X.5–24; Pindaros, Pythian Odes; Friedrich Nietzsche, The Birth of Tragedy (1872), diterjemahkan oleh Walter Kaufmann (Vintage, 1967); Walter Burkert, Greek Religion (Harvard University Press, 1985).