Hades dan Dunia Bawah: Kerajaan yang Tidak Pernah Kosong

Budi Santoso
Sejarawan & Penulis

Dalam mitologi Yunani sesungguhnya, Hades jauh dari gambaran "dewa jahat" yang populer dalam budaya modern. Ia adalah saudara kandung Zeus dan Poseidon, salah satu dari tiga putra Kronos dan Rhea. Bukan dewa kejahatan, melainkan penguasa yang konsisten dan tidak bisa disuap, yang menjalankan hukum alam paling fundamental: bahwa semua yang hidup akan mati, dan semua yang mati harus tinggal di bawah.
Nama dan Karakter
Nama "Hades" kemungkinan berasal dari kata Proto-Yunani yang berarti "tidak terlihat". Di Yunani kuno, menyebut namanya langsung dianggap membawa sial, sehingga orang sering menggunakan eufemisme Plouton ("yang kaya") yang menjadi "Pluto" dalam tradisi Romawi. Dalam karya Homer, Hades digambarkan serius dan tidak fleksibel, tetapi tidak jahat. Ketika Orpheus turun ke dunia bawah untuk meminta kembali istrinya Eurydice, Hades, tergerak oleh nyanyian yang tak tertandingi, memberikan izin yang belum pernah ia berikan sebelumnya. Ia adalah figur yang bisa merasakan, bukan mesin yang dingin.
Geografi Dunia Bawah
Di pintu masuknya, jiwa-jiwa harus menyeberangi Sungai Styx dengan bantuan Kharon sang juru tambang yang menuntut pembayaran berupa koin, inilah mengapa orang Yunani meletakkan koin di mulut atau mata orang meninggal. Anjing berkepala tiga Kerberos menjaga pintu masuk: mempersilakan jiwa masuk tetapi tidak membiarkan siapa pun keluar. Di dalam, wilayahnya terbagi: Padang Asphodel untuk jiwa-jiwa biasa, Elysium untuk para pahlawan, dan Tartaros, paling dalam, sebagai penjara Titan dan tempat hukuman bagi mereka yang menghina para dewa.
Para Hakim dan Hukuman yang Terkenal
Jiwa-jiwa diadili oleh tiga hakim: Minos, Rhadamantus, dan Aiakos, raja-raja yang terkenal karena keadilannya semasa hidup. Mereka menilai tanpa dipengaruhi status sosial atau kekayaan: prinsip keadilan paling radikal dalam pemikiran Yunani kuno. Sisifos, yang pernah merantai Thanatos (dewa kematian) sehingga tidak ada yang bisa mati, dihukum mendorong batu besar ke atas bukit yang menggelinding kembali setiap kali hampir tiba di puncak, selamanya. Tantalos, yang menghidangkan daging anaknya kepada para dewa, berdiri di air yang selalu surut ketika ia membungkuk, sementara buah selalu menjauh ketika ia mencoba menjangkaunya, dari namanya lahir kata "tantalize" dalam bahasa Inggris.
Kunjungan ke Dunia Bawah dalam Sastra dan Filsafat
Motif katabasis (perjalanan ke dunia bawah) adalah salah satu yang paling penting dalam sastra kuno. Odysseus berkonsultasi dengan nabi Teiresias di sana (Odysseia, Buku XI). Aeneas dipandu Sibyl untuk bertemu ayahnya (Vergilius, Aeneis, Buku VI). Setiap katabasis adalah kesempatan merefleksikan kehidupan, kematian, dan makna keberadaan. Platon dalam Phaidon menggunakan gambaran tentang dunia bawah sebagai fondasi argumen tentang keabadian jiwa: cara kita hidup sekarang menentukan kondisi kita setelah mati. Dalam pengertian ini, Hades yang tidak bisa disuap adalah perwakilan dari prinsip keadilan kosmis yang paling murni.
Sumber Utama: Homeros, Odysseia Buku XI, diterjemahkan oleh Emily Wilson (W.W. Norton, 2018); Platon, Phaidon, diterjemahkan oleh G.M.A. Grube (Hackett, 1977); Vergilius, Aeneis Buku VI, diterjemahkan oleh Robert Fagles (Viking, 2006); Jan Bremmer, The Early Greek Concept of the Soul (Princeton University Press, 1983).